Sujud Penggalian Intisari Ajaran Kerohanian Sapta Darma

Sujud Penggalian adalah sujud Penelitian, Sujud yang sempurna, yang pernah diwejangkan / diajarkan di dalam sarasehan Agung Tuntunan Sapta Darma, dalam rangka peringatan Dasa Warsa (10 tahun ) Sapta Darma pada tanggal 27 s/d 29 Desember 1962 oleh Panuntun Agung Sri Gutama di Jl. Stasiun No. 35 Kediri, Jawa Timur. Wejangan Panuntun Agung Sri Gutama tersebut disebut WEJANGAN PUDAK SINUMPET, yang telah dimuat sepenuhnya/ selengkapnya di dalam buku DASA WARSA.

Untuk mengetrapkan Sujud Penggalian yang sesuai dengan buku Dasa Warsa dan agar ajaran ini segera dikuasai oleh para Tuntunan, maka Bapak Panuntun Agung Sri Gutama pada tanggal 1 s/d 8 Febroari 1964, bertempat di sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta, telah berusaha menyelenggarakan Sujud Penggalian yang diikuti oleh para Tuntunan Kerohanian Sapta Darma se Jawa.

Dari sujud Penggalian inti sari Ajaran Sapta Darma, para Tuntunan telah dibekali dengan KEMBANG CEMPAKA SEWAKUL-WAKUL besarnya. Suatu modal Ajaran Adiluhung yang dapat dan mampu mewujudkan kemuliaan Nusa dan Bangsa kita serta umat manusia seluruh dunia, sehingga bangsa kita jadi contoh bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Suatu hal yang harus kita ketahui untuk kita yakini tentang kebenarannya, ialah Wejangan Bapak Panuntun Agung Sri Gutama dalam Penutupan Sujud Penggalian, yang antara lain dijelaskan bahwasannya mempelajari dan melaksanakan Ajaran/Ilmu Sapta Darma dapat mencakup segala bidang aspek kehidupan manusia antara lain :
  • Kita bisa bertindak selaku DOKTER, dengan Sabda Usada, ialah penyembuhan di jalan Tuhan kita dapat menolong orang-orang yang menderita sakit.
  • Kita bertindak selaku Sarjana Hukum, Dengan RADAR alat kewaspadaan/kewaskitaan atas tuntunan Allah Hyang Maha Kuasa, kita dapat menentukan benar atau salah segala persoalan.
  • Kita bertindak selaku Insinyur, Dapat menciptakan manusia yang mempunyai Nafsu, Budi dan pakerti yang luhur penuh dengan kewaspadaan dan kewaskitaan yang disertai dengan peralatan modern misalnya ; radar, antena, gelombang dan lain sebagainya yang ada dalam pribadi manusia itu sendiri.
  • Kita bertindak sebagai Sastrawan. Dengan kewaskitaan Loro-loroning atunggal ialah kumpulnya sari-sari rasa dan sari-sari rasa diwejang cahaya, dapat menimbulkan / mencetuskan kata-kata yang tepat dan benar (SABDA DADI).
  • Bisa bertindak selaku Pujangga. Dengan dasar kita bisa mengetahui jangka alam dan jangka pribadi.
Sujud Penggalian adalah penelitian sujud yang sempurna dengan tujuan sebagai berikut :
  • Meningkatkan mutu rohani para Tuntunan dan warga Sapta Darma.
  • Menyempurnakan pengabdian kepada Allah Hyang Maha Kuasa dan kepada sesama umat.
  • Membentuk satria utama yang berbudi luhur berkepribadiaan dan berkewaspadaan yang tinggi, itulah manusia yang dapat memayu-hayuning buana.
Tata caranya ditulis dalam buku Pedoman Penggalian Pribadi Manusia, antara lainnya :
  • Penggalian ini dilakukan bersama-sama warga Sapta Darma di sanggar-sanggar dibawah bimbingan / asuhan seorang atau beberapa Tuntunan yang sudah pernah menggali (melakukan penggalian) dan berhasil. Disamping ada juga beberapa Pengawas guna mengawasi para warga yang sedang melakukan sujud penggalian.
  • Penggalian dilakukan selama 12 malam berturut-turut atau dilakukan atau dilakukan siang dan malam selama 6 hari.
  • Jumlah warga penggali satu kelompok terdiri dari 12 orang warga/peserta, disesuaikan dengan besar kecilnya tempat sanggar.
  • Penelitian sujud disesuaikan dengan materi ajaran (lihat materi ajaran).

0 komentar:

Posting Komentar

 

TENTANG KAMI

JANGANLAH KAMU SIA-SIAKAN HIDUPMU KARENA KALAU KITA HIDUP MENURUTI HAWA NAFSU TIDAK AKAN ADA HABIS-HABISNYA BY ANDO

Free CSS Template by CSSHeaven.org TNB, Blogger Blog Templates